Langsung ke konten utama

Review Karya Perusak Moral

Akhirnya saya review juga neh komik. Sebelumnya...
Fyiuh, muncul juga toh neh buku selama ditunggu2 sekian abad diwarnai dengan peristiwa krisis ekonomi global, hamster saya kolaps, ibuk kost kasmaran lagi, sampai yang terakhir LPG langka. OK, saya langsung beli neh buku di toko besi bertepatan pada tanggal launchingnya dan setelah terbeli langsung aja saya bawa ke Probolinggo pas pulang kampung. Karena ndak bisa menahan hasrat, di bus akhirnya saya mulai baca komik ini. Di bus duduk bersebelahan dengan bapak-bapak, sekali lagi bapak-bapak bukan om-om. Kita pun (halah kita) bercengkerama sok akrab, dimulai dengan pertanyaan saya kuliah di mana sampai... "Dek, baca buku kuliah ya itu, mau ujian ya?" Pertanyaan itu muncul setelah tau saya kuliah di Ekonomi Brawijaya pas saya baca komik laknat ini juga. Saya juga ndak tau, bapak-bapak tadi kok bisa menyimpulkan saya lagi baca buku kuliahan padahal jelas dari segi tampang aja saya ndak nunjukkin mahasiswa rajin sama sekali dan entah dari mana neh komik laknat dikira buku kuliahan, saya pun gak tau. Hadeh pak, habis makan apa sih lu???
----
Di rumah Probolinggo ya gitu. Di kamar, di depan notebook saya baca-baca lagi neh komik. Bunda tiba-tiba masuk kamar nanyain, "Ngapain mas??? Baca-baca yah? Belajar yah? Kuliah yang bener yah" Bunda pun tertipu juga. Yah jelas-jelas ndak mungkin lah saya belajar, niat banget seh. Bunda ndak tau kayaknya kalau memang anaknya lagi belajar, yap BELAJAR JADI GILA lebih tepatnya.
----
Terakhir pas kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi (SPE). Di kelas pas yang laen pada presentasi, saya asyik melanjutkan baca neh komik sambil ketawa-ketawa jungkir balik. Lalu salah satu teman bilang, "Sibuk nyari pertanyaan di buku yow Za???" Gile, mabuk abis maem ulet bulu kayaknya neh bocah, udah jelas-jelas buku-buku SPE covernya aja jauh beda sama komik laknat ini, udah jelas-jelas tampang Radith di cover beda jauh sama tampangnya Adam Smith, David Ricardo, ataupun Keyness, eh ini malah dikirain serius menyimak neh kuliah. Mana mungkin saya nyari pertanyaan buat ditanyakan ke penyaji dengan modal komik laknat ini? Ntar yang ada malah pertanyaan jadi, "Kapan Radith terakhir kali boker???" dan teman-teman penyaji bakal memutilasi saya.

----

OK, bedah komik dimulai. Duet Raditya Dika (as penulis) featuring Dio Rudiman (as komikus) bisa dikatakan sebagai komposisi baru dan unik dalam dunia perkomikan Indonesia. Dio sukses bikin ilustrasi gambar yang okeh gila di komik ini. Ya meski saya cermati sebagian layoutnya juga masih berantakan (nah kalo ini saya ndak tau urusan Dio atau percetakan, Gagas Media). Selain itu kalo diliat lagi, ilustrasi-nya Dio mengingatkan pada karakter di komik One Piece, ya jadi pas baca sedikit terngiang One Piece malah yang ada, ya semoga ke depannya bisa agak beda (lebih) dari apa yang ada di komik One Piece. Overall saya bilang uda jempolan buat komik Indonesia yang dibuat oleh anak muda seperti Dio, sukses! :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mapan Bekerja dan Berkarya Bersama Mahakarya ASUS ZenBook 3 UX390UA

Dengan perkembangan teknologi saat ini, laptop yang pada hakikatnya merupakan perangkat komputasi portabel, sudah seharusnya menjadi semakin mudah dibawa ke mana-mana dan lebih bisa menunjang produktivitas. Tuntutan itulah yang membuat produsen-produsen komputer masih terus saling bermanuver melakukan inovasi. Berinovasi demi permintaan pasar yang semakin keras menginginkan laptop yang setipis mungkin, seringan mungkin, sekaligus tetap se-powerfull mungkin. Apa mungkin? Seberapa mungkin? Pertanyaan tantangan tersebut perlahan mendapat jawabannya tersendiri ketika ASUS merilis ASUS ZenBook 3 UX390UA . Di Indonesia, mahakarya prestisius ini mulai mereka perkenalkan di acara Zenvolution di Bali pada September 2016. Berawal dari iseng melihat live Instagram-story teman (sebut saja Asmari , blogger asal Semarang ) yang saat itu juga sedang menghadiri acara Zenvolution yang sama, entah saya pun langsung mulai menaruh perhatian kepada laptop ini. Bukan karena ndak ada pacar atau sosok ...

SENI Fakultas Ekonomi Berbicara...

Hmm, alhamdulillah kondisi saya udah normal, meski belum 100% seh, but well saya mau cerita-cerita neh soal event di kampus semingguan kemarin. Masih ndak basi kan??? Ya secara saya mau posting, cuz neh acara menurut saya TOP markotop dah. Bisa dibilang neh miniSoundrenaline -nya anak Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya . Hmmm... Tuh acara dilaksanain tanggal 30 Agustus kemaren tempatnya di basement FEUB, acaranya seh sebenarnya buat menyambut kedatangan maba ( mahasiswa baru ) gitu, opening Krida Mahasiswa gitu lah. Pengisi acaranya dari anak-anak UKM seni FEUB, ada EGO (Economic Goes 2 Opera , teater-teater gitu lah -opera bukan yang buat browsing itu om-), EDC (Economic Dance Club) , dan juga Economic Homeband , dan mereka bertiga bakalan nampilin sebuah perform colaboration !!! Sintingnya, di acara beginian saya ngrangkap 2 kepanitiaan sekaligus. Gini, panitianya di sini ada 2 macam, panitia inti dari BEM FE sendiri dan ada panitia kecil dari UKM-UKM seninya sendiri, dan ...

Cerita dari Sebuah SMA di Probolinggo

Lagi ada di Probolinggo ( tercinta ) neh. Seminggu kemarin ini justru hidup saya kebanyakan malangmelintang eksis di jalanan. Hha, saya ndak mengemis or mbambong kok rek. Bolak-balik Probolinggo ae wes 3 kali, ke Surabaya 2 kali, dalam seminggu, sinting, dan akhirnya sekarang terdampar di Probolinggo. Rumah Probolinggo lagi direnovasi, dan itu malah membuat saya tambah sumpek habis-habisan, dimana-dimana debu, kolor, eh kotor deng maksutnya, secara saya kan alergi debu rek gara-gara punya penyakit asma, hikkks. Padahal saya pengen pulang ke Probolinggo buat relax sejenak, ehh malah rame sama tukang-tukang suruhan Ayah, jedak jedokk jedak jedok, tokk-tookkk tok, krompyyaaangg, jenduarrggghhh. Sungguh, perpaduan suara yang cukup mengganggu telinga saya. Dari Malang awalnya memang mood saya juga udah naek-turun layaknya kurs rupiah terhadap dolar Kenya ( mang Kenya pake dolar? ), emosi labil, dohhh pengen rasanya membakar orang hidup-hidup. Yang mencolok adalah mood makan, entah kenap...