Langsung ke konten utama

Kopdar Komunitas Jajal Grand Food Court Malang

Malam 1 Desember, saya berkesempatan ikut memenuhi undangan dari Grand Food Court (GFC) yang berupa voucher yang diserahkan kepada teman-teman komunitas Blogger Ngalam, Malang Kuliner, Koparema, dan Kaskus Regional Malang. Setelah beberes kerjaan kelar di kampus dan setelah sholat Maghrib, dengan cuma berbekal badan yang lusuh ini saya pun sesegera menuju Grand Food Court, yang berada di Jalan A. Yani 9 itu. Dari luar bangunan aja uda mentereng megah wah banget...

Tenant kulinernya berbagai macam di sini, yang jelas tenant yang hadir di sini merupakan kuliner top pilihan yang ada di Malang, udah ndak begitu asing. Soto Daging Gubeng Pojok, dari dulu emang selalu jadi salah satu rujukan soto pas jaman-jaman di Surabaya dulu. Bakmi Gajahmada, udah jadi favorit saya pas masih belum menetap di Malang kalau lagi bertandang ke Malang. Tahu Campur Pak Iwan dan Tahu Campur Jeng Anis pas jaman awal kuliah pacarannya sering mampir ke tempat itu, sekarang uda ndak karena trauma. Ayam Goreng Tenes, ndak usah ditanya yang jelas juga enak, dulu tiap kali sama keluarganya pacar kalau makan mesti ke sini, sekarang udah ndak karena agak trauma. Tiap ada tamu dari luar ke Malang yang biasanya pengen makan sate selalu merapatnya ke Sate dan Gule Kambing Bang Saleh ataupun Sate Ayam Pak Siboen. Sebagai penggemar jajanan pasar seperti puthu, cenil, lopis, dan sebangsanya cupu banget lah kalau belum pernah nyoba Puthu Lanang, tapi sekarang saya sendiri uda jarang ke sana, karena dihitung-hitung tempatnya jauh juga dari tempat saya. Selain itu di Grand Food Court ini juga ada Bakso Presiden, Rawon Tessy, Bebek HT, Warung Khas Jawa, Oriental Food Pak Tulis, Lumpia MT, Gado-Gado Pak Wito, Warung Bali Bu Ketut. Nah berarti dengan adanya GFC ini, saya ndak perlu trauma lagi, ndak perlu bingung lagi nyari tempat makan kalau ada tamu ke Malang, ndak perlu pakai debat lagi karena beda selera kalau mau nyari tempat makan sama teman, semuanya bisa terpenuhi di GFC ini, insyaallah. Soal harga? Tak liat-liat seh ndak terlalu mahal ya, cuma selisih sedikit aja sama lapak di tempat aslinya... *sampai segitunya ngafal harga*

Semua menu uda dibahas, sekarang bingung kan, pas uda ke sini mau mesen apa. Karena udah dibilang semua yang ada di sini itu asli, rasanya dijamin sama seperti di lapak asalnya, dan ndak cuma sama namanya aja, saya kali ini mau mesen yang belum pernah saya coba, yaitu yang ada di Warung Bali Bu Ketut. Mesen ayam betutu, ya meski udah biasa ngerasain nasi ayam betutu tapi belum pernah sama sekali ngerasain nasi ayam betutu-nya Warung Bali Bu Ketut. Namun apa daya keinginan saya ndak tercapai (ceileh), nasi ayam betutunya lagi ndak ada. Alhasil saya ganti mesen sate ayam + lontong.

Selesai mesen, nunggu pesenan datang, liat-liat sekeliling GFC sambil ngobrol bahas acara Bloggerngalam ke depannya. Sepengamatan saya sih GFC uda cukup begitu wah ya, deretan kursi yang minimalis tertata rapi, pencahayaan yang uda cukup terang benderang, bersih tempatnya, berAC, dan ada juga khusus smoking area-nya. Tapi kayaknya bakal lebih oke lagi kalau ada dekorasi lagi seperti lukisan di dinding yang mungkin bisa mempercantik ruangan. Ada lagi, entah karena emang konsepnya gini atau gimana, saya ndak menemukan colokan, kalau adapun sangat jauh dari jangkauan, itupun cuma 2 kalau ndak salah. Ya ndak apa sih, kebetulan aja pas ke sana hp saya lagi mati. Ya kali aja mungkin nanti ada tamu dari luar kota, dari perjalanan jauh, terus hp-nya juga lagi lowbat pas juga kebetulan mampir istirahat dan cari makan di GFC. Oiya, karena di Malang uda banyak fans klub bola tuh, lebih asik lagi kalau ada LCD proyektor yg gede buat sewaktu-waktu nonton bareng, kalau ada 2 fans klub yang punya base yang massa-nya banyak biar ndak susah cari tempat lagi buat nyatuinnya. Di tengah asik ngobrol setelah menunggu lama, pesanan sate ayam nemplok juga di meja, tapi belum ada lontongnya.
Karena lontongnya belum ada, saya pun lanjut ngobrol sama teman-teman dari Blogger Ngalam, Malang Kuliner, Koparema, dan Kaskus Regional Malang. Menungggu 45 menit, si lontong belum datang juga, lebih menyakitkan nahan lapar gegara lontong belum datang ternyata daripada nunggu kepastian jawaban cinta dari gebetan. Menunggu lagi, 5 menit kemudian mbak waitress-nya nyamperin ke meja dan bilang kalau lontongnya habis, patah hati deh ya, namun saya berusaha mengumpulkan hati yang uda tercecer mengikhlaskan mengganti lontong dengan nasi. Ini bukan saya selingkuh dan ndak cinta lagi sama lontong, tapi karena saya uda ditolak sama si lontong. Si nasi ternyata juga enggan member kepastian, nasib saya digantung, 15 menit ndak kunjung datang. Uda galau aja digantung gini. Alhamdulillah si nasi memberikan jawaban 5 menit kemudian atau tet pukul 9, ndak tanggung-tanggung sih sampai ada 3 porsi nasi yang menawarkan diri ke meja, woi kelebihan woi, saya ndak mau serakah, saya cukup mau 1 aja.
Ya saya sih ndak apa, cukup memaklumi adanya order yang lama, pesenan yang salah, komunikasi antar waitress yang mungkin masih perlu ditingkatkan lagi karena kan emang GFC baru aja soft opening. Hal itu juga uda diakui sama manajer GFC sendiri yang juga menyempatkan menghampiri kami. Malah sebenarnya saya dan teman-teman yang mengucapkan terimakasih uda diundang dan diberi kesempatan untuk menikmati servis dari GFC. Terimakasih, setidaknya saya ndak menyesal untuk mengcancel ini...

*photo courtessy by @FleurFlauga

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mapan Bekerja dan Berkarya Bersama Mahakarya ASUS ZenBook 3 UX390UA

Dengan perkembangan teknologi saat ini, laptop yang pada hakikatnya merupakan perangkat komputasi portabel, sudah seharusnya menjadi semakin mudah dibawa ke mana-mana dan lebih bisa menunjang produktivitas. Tuntutan itulah yang membuat produsen-produsen komputer masih terus saling bermanuver melakukan inovasi. Berinovasi demi permintaan pasar yang semakin keras menginginkan laptop yang setipis mungkin, seringan mungkin, sekaligus tetap se-powerfull mungkin. Apa mungkin? Seberapa mungkin? Pertanyaan tantangan tersebut perlahan mendapat jawabannya tersendiri ketika ASUS merilis ASUS ZenBook 3 UX390UA . Di Indonesia, mahakarya prestisius ini mulai mereka perkenalkan di acara Zenvolution di Bali pada September 2016. Berawal dari iseng melihat live Instagram-story teman (sebut saja Asmari , blogger asal Semarang ) yang saat itu juga sedang menghadiri acara Zenvolution yang sama, entah saya pun langsung mulai menaruh perhatian kepada laptop ini. Bukan karena ndak ada pacar atau sosok ...

SENI Fakultas Ekonomi Berbicara...

Hmm, alhamdulillah kondisi saya udah normal, meski belum 100% seh, but well saya mau cerita-cerita neh soal event di kampus semingguan kemarin. Masih ndak basi kan??? Ya secara saya mau posting, cuz neh acara menurut saya TOP markotop dah. Bisa dibilang neh miniSoundrenaline -nya anak Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya . Hmmm... Tuh acara dilaksanain tanggal 30 Agustus kemaren tempatnya di basement FEUB, acaranya seh sebenarnya buat menyambut kedatangan maba ( mahasiswa baru ) gitu, opening Krida Mahasiswa gitu lah. Pengisi acaranya dari anak-anak UKM seni FEUB, ada EGO (Economic Goes 2 Opera , teater-teater gitu lah -opera bukan yang buat browsing itu om-), EDC (Economic Dance Club) , dan juga Economic Homeband , dan mereka bertiga bakalan nampilin sebuah perform colaboration !!! Sintingnya, di acara beginian saya ngrangkap 2 kepanitiaan sekaligus. Gini, panitianya di sini ada 2 macam, panitia inti dari BEM FE sendiri dan ada panitia kecil dari UKM-UKM seninya sendiri, dan ...

Cerita dari Sebuah SMA di Probolinggo

Lagi ada di Probolinggo ( tercinta ) neh. Seminggu kemarin ini justru hidup saya kebanyakan malangmelintang eksis di jalanan. Hha, saya ndak mengemis or mbambong kok rek. Bolak-balik Probolinggo ae wes 3 kali, ke Surabaya 2 kali, dalam seminggu, sinting, dan akhirnya sekarang terdampar di Probolinggo. Rumah Probolinggo lagi direnovasi, dan itu malah membuat saya tambah sumpek habis-habisan, dimana-dimana debu, kolor, eh kotor deng maksutnya, secara saya kan alergi debu rek gara-gara punya penyakit asma, hikkks. Padahal saya pengen pulang ke Probolinggo buat relax sejenak, ehh malah rame sama tukang-tukang suruhan Ayah, jedak jedokk jedak jedok, tokk-tookkk tok, krompyyaaangg, jenduarrggghhh. Sungguh, perpaduan suara yang cukup mengganggu telinga saya. Dari Malang awalnya memang mood saya juga udah naek-turun layaknya kurs rupiah terhadap dolar Kenya ( mang Kenya pake dolar? ), emosi labil, dohhh pengen rasanya membakar orang hidup-hidup. Yang mencolok adalah mood makan, entah kenap...