Langsung ke konten utama

Pacaran Itu Bukan Konsumsi Publik

To the point, sebenarnya ini untuk menanggapi seseoarng yang syirik yang sudah membuat isu macam-macam sih ya. Boleh kok anda berkomentar kalau saya pernah menginapkan dan meniduri anak orang di kost, saya menghargai perkataan anda. Tapi komentar anda itu malah bikin saya tersenyum lalu tertawa, yang pertama tahu apa anda tentang saya, yang kedua yah ndak elit poool ta masa begituan yang bisa dibilang ‘sakral’ cuma di kost, yang ketiga apa mungkin itu pengalaman anda sendiri? Monggo silahkan dijawab...



Saya pacaran ndak sekalipun punya niat untuk nyari sensasi atau pamer kesana kemari. Ndak pernah saya pas jadian bilang “eh rek aku jadian loh sama anak ini”, itu ndeso. Atau pas ketemu sama teman, “rek kenalno, iki ojobku”, itu tambah ndeso. Terlebih pas di fb gencar banget ngupload foto (yang mungkin dianggap mesra) bareng pacar, tambah so what ndesone ndeso. Ini bukan saya syirik, bisa aja saya seperti itu namun saya terbiasa membiarkan semuanya berjalan sendiri apa adanya, istilahnya kalau dalam ekonomi ya hukum pasar. Saya lebih suka kalau mereka tahu semua dengan sendirinya. Saya lebih suka kalau misalnya tiba-tiba ketemu sama teman pas saya sama pacar “cewekmu 'Za?” atau “loh 'Za, kamu pacaran sama dia toh sekarang? ealah, gitu jadian kok bilang-bilang” lalu saya sama pacar kompak menjawabnya dengan senyum “heeh”, jawaban cukup pelit memang, hhehe. Sudah sering juga kan saya nanggepin cuma lewat senyum saja pas ada yang nanya misalnya saya pas memang lagi sibuk acara di FE atau sibuk sering bolak-balik ketemu dosen ngerjain proyek-proyek dari dosen, “'Za cewekmu ndak marah a kamu banyak luangin waktu ke acara/kerjaan beginian? Bawa ke sini aja 'Za cewekmu biar kamu gak kangen gitu”. Saya tersenyum karena sungguh itu pertanyaan sebenarnya aneh dan ndak penting. Emang maunya kudu dibawa terus gitu ya pacarnya, dirantai saja sekalian biar ndak lepas. Tapi saya juga selalu menawarkan kok sebelumnya ke pacar misalnya, “ay, ayaa hari x sampai hari z kudu ngurus ini, mungkin banyak waktu yang tersita.. ayaa ijin ya, janji pasti ada waktu gantinya ntar.. atau kalau keberatan ay bisa ikutan nemenin ayaa kok.. sayang ay” dan saya akan berangkat kalau sudah mendapat jawaban “iyah, ati2 ya ayaa. g pake macem-macem ya ayaaa



Sampai saat ini juga untungnya saya ndak pernah punya pacar yang kemintil (baca: ikutan terus), sampai saat ini semua selalu ngerti kerjaan masing-masing dan juga selalu mensupport masing-masing. Itu usaha saya untuk membedakan mana urusan pribadi sama pacar mana urusan kerjaan, sendaknya saya sudah berusaha belajar untuk profesional. Sama sekali itu ndak mengurangi momen kok. Saya juga selalu berusaha untuk menepati janji untuk mengganti waktu ‘yang hilang itu’ misalnya kuliner bareng pacar seharian, kalaupun lama juga ndak nemu waktu luang pasti ada rencana yang lebih luar biasa dari itu, misalnya yang terakhir, ada waktu luang yang lumayan panjang langsung berangkat ke Semarang atau ke Jogja bareng pacar, menginapnya jelas pisah di kost teman masing-masing. Pasti ada waktu untuk itu, saya percaya itu...



Biasakan pacaran bukan untuk konsumsi publik, toh belum tentu semuanya ikut senang atau malah pura-pura ikut senang... :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mapan Bekerja dan Berkarya Bersama Mahakarya ASUS ZenBook 3 UX390UA

Dengan perkembangan teknologi saat ini, laptop yang pada hakikatnya merupakan perangkat komputasi portabel, sudah seharusnya menjadi semakin mudah dibawa ke mana-mana dan lebih bisa menunjang produktivitas. Tuntutan itulah yang membuat produsen-produsen komputer masih terus saling bermanuver melakukan inovasi. Berinovasi demi permintaan pasar yang semakin keras menginginkan laptop yang setipis mungkin, seringan mungkin, sekaligus tetap se-powerfull mungkin. Apa mungkin? Seberapa mungkin? Pertanyaan tantangan tersebut perlahan mendapat jawabannya tersendiri ketika ASUS merilis ASUS ZenBook 3 UX390UA . Di Indonesia, mahakarya prestisius ini mulai mereka perkenalkan di acara Zenvolution di Bali pada September 2016. Berawal dari iseng melihat live Instagram-story teman (sebut saja Asmari , blogger asal Semarang ) yang saat itu juga sedang menghadiri acara Zenvolution yang sama, entah saya pun langsung mulai menaruh perhatian kepada laptop ini. Bukan karena ndak ada pacar atau sosok ...

SENI Fakultas Ekonomi Berbicara...

Hmm, alhamdulillah kondisi saya udah normal, meski belum 100% seh, but well saya mau cerita-cerita neh soal event di kampus semingguan kemarin. Masih ndak basi kan??? Ya secara saya mau posting, cuz neh acara menurut saya TOP markotop dah. Bisa dibilang neh miniSoundrenaline -nya anak Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya . Hmmm... Tuh acara dilaksanain tanggal 30 Agustus kemaren tempatnya di basement FEUB, acaranya seh sebenarnya buat menyambut kedatangan maba ( mahasiswa baru ) gitu, opening Krida Mahasiswa gitu lah. Pengisi acaranya dari anak-anak UKM seni FEUB, ada EGO (Economic Goes 2 Opera , teater-teater gitu lah -opera bukan yang buat browsing itu om-), EDC (Economic Dance Club) , dan juga Economic Homeband , dan mereka bertiga bakalan nampilin sebuah perform colaboration !!! Sintingnya, di acara beginian saya ngrangkap 2 kepanitiaan sekaligus. Gini, panitianya di sini ada 2 macam, panitia inti dari BEM FE sendiri dan ada panitia kecil dari UKM-UKM seninya sendiri, dan ...

Cerita dari Sebuah SMA di Probolinggo

Lagi ada di Probolinggo ( tercinta ) neh. Seminggu kemarin ini justru hidup saya kebanyakan malangmelintang eksis di jalanan. Hha, saya ndak mengemis or mbambong kok rek. Bolak-balik Probolinggo ae wes 3 kali, ke Surabaya 2 kali, dalam seminggu, sinting, dan akhirnya sekarang terdampar di Probolinggo. Rumah Probolinggo lagi direnovasi, dan itu malah membuat saya tambah sumpek habis-habisan, dimana-dimana debu, kolor, eh kotor deng maksutnya, secara saya kan alergi debu rek gara-gara punya penyakit asma, hikkks. Padahal saya pengen pulang ke Probolinggo buat relax sejenak, ehh malah rame sama tukang-tukang suruhan Ayah, jedak jedokk jedak jedok, tokk-tookkk tok, krompyyaaangg, jenduarrggghhh. Sungguh, perpaduan suara yang cukup mengganggu telinga saya. Dari Malang awalnya memang mood saya juga udah naek-turun layaknya kurs rupiah terhadap dolar Kenya ( mang Kenya pake dolar? ), emosi labil, dohhh pengen rasanya membakar orang hidup-hidup. Yang mencolok adalah mood makan, entah kenap...