Langsung ke konten utama

Mata Uang Tunggal ASEAN? Ingin Namun Belum Dibutuhkan

Pernah terpikir, keren kali ya kalau punya mata uang seperti Euro yang tidak cuma berlaku di satu negara saja, berlaku untuk beberapa negara se-kawasan. Asyik juga kalau melancong ke Singapura, Malaysia, Thailand dan negara-negara ASEAN lainnya atau ketika ingin membeli barang-barang via online dari sesama negara-negara ASEAN tanpa harus menukarkan rupiah terlebih dahulu. Terkadang juga pernah terbersit keinginan menyederhanakan digit nominal rupiah selain dengan cara redenominasi. Hal yang sebenarnya sempat pernah terpikir beberapa tahun yang lalu dan belakangan muncul lagi.

Mata uang tunggal merupakan konsep dimana beberapa negara menyepakati hanya akan menggunakan 1 jenis mata uang dalam segala kegiatan transaksinya dengan negara-negara yang menyepakatinya. Sedangkan ASEAN sendiri merupakan kawasan yang digadai-gadaikan akan memiliki potensi besar menguasai perekonomian di dunia di masa mendatang jika mulai memberlakukan mata uang tunggal tersebut, wajar dianggap demikian menilik pasca krisis tahun 2008 perekonomian negara-negara ASEAN terus mengalami peningkatan. Dengan diberlakukannya mata uang tunggal ASEAN, ASEAN akan lebih dapat mendorong peningkatan tingkat volume perdagangan dan kerjasama yang berakibat positif terhadap pertumbuhan ekonomi, terbentuknya pasar kapital yang lebih kuat dan lebih stabil, mata uang stabil sehingga membuat perekonomian negara-negara ASEAN akan menjadi lebih mapan, yang berarti dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, hal tersebut akan mempererat hubungan antar negara-negara ASEAN, sehingga dapat meningkatkan volume perdaganan melalui ekspor dan impor, karena tidak adanya bea masuk. Konsep mata uang tunggal ini sebenarnya sudah mulai dibicarakan negara-negara ASEAN dalam pengembangan pembahasan visi integritas ASEAN 2020 sejak tahun 2000an, tepat setelah mata uang Euro mulai diberlakukan oleh negara-negara Uni Eropa. Jika ASEAN telah menetapakan mata uang tunggal, itu berarti ASEAN telah menetapakan sistem moneternya menjadi sistem moneter tunggal.

Banyak Hambatan, Tidak Perlu Sekarang

Optimisme mengenai kenginan mata uang tunggal ASEAN boleh saja tinggi, namun semua keinginan, terlebih mengenai keinginan bersama, tak akan mudah diwujudkan semudah menyuruh anak sekolahan untuk mengenakan seragam yang sama. Sulit menyeragamkan ideologi pada tiap-tiap negara, terlebih negara-negara di ASEAN yang memiliki budaya, suku, bahasa, sejarah yang sangat beragam. Dari sejarah terbentuk ASEAN sendiri, ASEAN meski telah terbentuk sejak 1967, ASEAN masih dibilang terlalu dini untuk memberlakukan mata uang tunggal, terlebih konsep mata uang tunggal ASEAN baru mulai dibahas tahun 2000an. Butuh waktu yang lama dalam mematangkan konsep tersebut, Uni Eropa saja butuh 40 tahun untuk merealisasikan konsep mata uang tunggalnya, Euro.

Dalam mematangkan konsep mata uang tunggal tersebut banyak hal yang harus dibenahi negara-negara ASEAN. Adapun beberapa kriteria yang dianggap perlu dibenahi untuk menuju pemberlakuan mata uang tunggal.

Yang pertama, intensitas perdagangan antar negara-negara yang terlibat dalam kawasan harus tinggi. Hal ini mutlak agar tiap-tiap Negara yang terlibat dapat memperoleh benefit yang maksimum dari penerapan mata uang tunggal. Pada kasus ini negara-negara ASEAN sudah mulai menerapkannya dengan adanya ASEAN Free Trade Area (AFTA), diharapkan intensitas perdagangan antar negara-negara ASEAN akan meningkat.

Yang kedua, tingkat kemiripan pola siklus ekonomi harus tinggi. Hal ini dibutuhkan untuk meminimalkan terjadinya tekanan-tekanan pada masing-masing negara yang terlibat untuk melakukan respon kebijakan stabilisasi ekonomi secara individual. Pada kasus ini negara-negara ASEAN cenderung memiliki kemiripan yang sinkron, misalnya dalam contoh ketika adanya suatu krisis ekonomi, negara-negara ASEAN juga sama-sama terkena dampaknya mesti dalam penerapan kebijakannya berbeda-beda dan meski ada juga yang tidak terkena dampaknya.

Yang terakhir, pembangunan ekonomi dari negara-negara yang tergabung dalam kawasan harus cenderung konvergen. Hal ini harus dipenuhi untuk menuju pola kebijakan pengelolaan ekonomi yang sama. Pada kasus ini negara-negara ASEAN cenderung tidak seragam (tidak menunjukkan konvergensi). Hal ini terlihat pada masih tingginya kesenjangan antar negara-negara ASEAN dalam hal sistem moneter yang berbeda, kesenjangan dalam hal tingkat pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat pengangguran, serta tingkat nilai kurs masing-masing mata uang negara-negara ASEAN . Ambil contoh, Singapura yang saat ini memiliki nilai kurs mata uang yang kuat tidak akan mau melaksanakan konsep mata uang tunggal dengan misalnya Laos yang memiliki nilai kurs mata uang jauh dibawah dollar Singapura.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan akan sulit, kompleks, dan butuh waktu yang lama untuk menerapkan mata uang tunggal di ASEAN. Namun, jika dipikir lagi secara ringkas, melihat perekonomian Indonesia sendiri hingga saat ini (hubungan perdagangan antar negara meningkat, inflasi masih terjaga, serta pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat) sebenarnya penerapan mata uang tunggal di ASEAN masih belum diperlukan oleh Indonesia. Terlebih ketika penerapan mata uang tunggal Euro di Uni Eropa yang belakangan juga mengalami kemunduran pasca adanya krisis di Yunani.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mapan Bekerja dan Berkarya Bersama Mahakarya ASUS ZenBook 3 UX390UA

Dengan perkembangan teknologi saat ini, laptop yang pada hakikatnya merupakan perangkat komputasi portabel, sudah seharusnya menjadi semakin mudah dibawa ke mana-mana dan lebih bisa menunjang produktivitas. Tuntutan itulah yang membuat produsen-produsen komputer masih terus saling bermanuver melakukan inovasi. Berinovasi demi permintaan pasar yang semakin keras menginginkan laptop yang setipis mungkin, seringan mungkin, sekaligus tetap se-powerfull mungkin. Apa mungkin? Seberapa mungkin? Pertanyaan tantangan tersebut perlahan mendapat jawabannya tersendiri ketika ASUS merilis ASUS ZenBook 3 UX390UA . Di Indonesia, mahakarya prestisius ini mulai mereka perkenalkan di acara Zenvolution di Bali pada September 2016. Berawal dari iseng melihat live Instagram-story teman (sebut saja Asmari , blogger asal Semarang ) yang saat itu juga sedang menghadiri acara Zenvolution yang sama, entah saya pun langsung mulai menaruh perhatian kepada laptop ini. Bukan karena ndak ada pacar atau sosok ...

SENI Fakultas Ekonomi Berbicara...

Hmm, alhamdulillah kondisi saya udah normal, meski belum 100% seh, but well saya mau cerita-cerita neh soal event di kampus semingguan kemarin. Masih ndak basi kan??? Ya secara saya mau posting, cuz neh acara menurut saya TOP markotop dah. Bisa dibilang neh miniSoundrenaline -nya anak Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya . Hmmm... Tuh acara dilaksanain tanggal 30 Agustus kemaren tempatnya di basement FEUB, acaranya seh sebenarnya buat menyambut kedatangan maba ( mahasiswa baru ) gitu, opening Krida Mahasiswa gitu lah. Pengisi acaranya dari anak-anak UKM seni FEUB, ada EGO (Economic Goes 2 Opera , teater-teater gitu lah -opera bukan yang buat browsing itu om-), EDC (Economic Dance Club) , dan juga Economic Homeband , dan mereka bertiga bakalan nampilin sebuah perform colaboration !!! Sintingnya, di acara beginian saya ngrangkap 2 kepanitiaan sekaligus. Gini, panitianya di sini ada 2 macam, panitia inti dari BEM FE sendiri dan ada panitia kecil dari UKM-UKM seninya sendiri, dan ...

Cerita dari Sebuah SMA di Probolinggo

Lagi ada di Probolinggo ( tercinta ) neh. Seminggu kemarin ini justru hidup saya kebanyakan malangmelintang eksis di jalanan. Hha, saya ndak mengemis or mbambong kok rek. Bolak-balik Probolinggo ae wes 3 kali, ke Surabaya 2 kali, dalam seminggu, sinting, dan akhirnya sekarang terdampar di Probolinggo. Rumah Probolinggo lagi direnovasi, dan itu malah membuat saya tambah sumpek habis-habisan, dimana-dimana debu, kolor, eh kotor deng maksutnya, secara saya kan alergi debu rek gara-gara punya penyakit asma, hikkks. Padahal saya pengen pulang ke Probolinggo buat relax sejenak, ehh malah rame sama tukang-tukang suruhan Ayah, jedak jedokk jedak jedok, tokk-tookkk tok, krompyyaaangg, jenduarrggghhh. Sungguh, perpaduan suara yang cukup mengganggu telinga saya. Dari Malang awalnya memang mood saya juga udah naek-turun layaknya kurs rupiah terhadap dolar Kenya ( mang Kenya pake dolar? ), emosi labil, dohhh pengen rasanya membakar orang hidup-hidup. Yang mencolok adalah mood makan, entah kenap...